Kuncinya Hanya Satu | Fithrotul Izzah, SMAN 1 Pekalongan

 
 
Detik-detik menjelang pengumuman SNMPTN semakin dekat. Saya yang waktu itu tengah berada di sekolah untuk latihan persiapan Prom Night bersama teman-teman sekelas mendadak panik bukan main. Salah seorang teman saya dengan wajah sumringah berlari dari arah masjid sekolah menuju ruang kelas dengan raut muka begitu gembira. Ia diterima di prodi Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada. Teman-teman saya sontak memberikan ucapan selamat kepadanya. Tak lama, kabar mengenai teman-teman yang diterima melalui SNMPTN berdatangan. Tubuh saya semakin bergetar. Saya penasaran dengan hasil SNMPTN saya, akan tetapi saya tidak berani melihat hasilnya sendirian. Saya tidak dapat lagi membendung rasa penasaran saya hingga akhirnya saya putuskan untuk ijin pulang latihan lebih awal. Saya bergegas meminta ayah saya untuk menjemput saya di sekolah. Sesampainya di rumah, saya bergegas mengambil laptop dan membuka web pengumuman SNMPTN ditemani ibu saya. Saya sempat panik ketika website yang saya buka tidak dapat diklik. Saya sampai harus mengganti laptop dan membuka website alternatif sebelum akhirnya saya dapat melihat hasil SNMPTN saya.
“Selamat! Anda dinyatakan lolos SNMPTN 2017.”
Ucapan syukur mengalir dari bibir saya dan kedua orang tua saya. Saya diterima di prodi Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada, prodi yang sudah lama saya impikan. Saya tersenyum mengingat perjuangan saya menuju kampus impian tidaklah mudah.
Sejak awal, saya memang tertarik dengan dunia bahasa Inggris. Berawal dari ayah saya yang mengkursuskan anaknya ini di salah satu tempat kursus terbaik di Pekalongan. Empat tahun lebih saya mengasah kemampuan bahasa Inggris saya di tempat itu, hingga tak sadar bahwa passion untuk belajar bahasa Inggris lebih dalam telah tumbuh subur dalam diri saya. Bahkan sejak SMP, keinginan untuk kuliah di prodi Sastra Inggris telah muncul dalam benak saya.
Memasuki masa-masa SMA, saya dibuat galau karena harus memilih antara peminatan MIPA atau IPS. Entah bagaimana, saya masuk ke peminatan IPA. Ketika ditanya, “Masuk IPA, mau kuliah apa nanti?” saya hanya bisa tersenyum. Hati kecil saya mengatakan saya ingin kuliah Sastra Inggris, tapi saya belum berani menyuarakan hal itu di depan orang banyak. Lambat laun, saya mendapat informasi bahwa Sastra Inggris masuk dalam kategori Soshum, yang mana anak IPA hanya memiliki kemungkinan sedikit sekali untuk bisa lolos SNMPTN jika mengambil prodi kategori Soshum. Saya sempat putus harapan dan mencoba untuk melepas keinginan saya untuk kuliah Sastra Inggris demi peluang lolos SNMPTN yang lebih besar. Akhirnya, saya melirik prodi Kedokteran Umum, Ilmu Gizi, dan Teknik Fisika sebagai prodi ‘pelarian’ saya untuk cari aman.
Awal semester kedua di kelas 12, ketika SNMPTN semakin dekat, entah mengapa hati saya meminta saya kembali memilih jurusan Sastra Inggris. Setelah mencari informasi sana sini, bertanya sana sini, saya nekat akan memilih prodi Sastra Inggris. Terlebih di SNMPTN tahun sebelumnya, ada kakak kelas saya yang anak IPA, tetapi diterima SNMPTN Sastra Indonesia UGM. Saya pikir saya juga punya kemungkinan yang sama. Jatuhlah pilihan saya pada Sastra Inggris UGM.
Saya kira jalan saya akan mulus, tetapi nyatanya tidak. Orang tua saya tidak mengijinkan saya kuliah di UGM. Kedua orang tua saya adalah seorang guru non PNS di sekolah swasta di Pekalongan. Mereka pikir Yogyakarta terlalu jauh dan akan menghabiskan banyak biaya hanya untuk perjalanan pulang pergi ke sana. Mereka menyarankan saya untuk mengambil prodi yang sama di salah satu universitas yang ada di Semarang karena tidak terlalu jauh dari Pekalongan. Ayah saya bahkan bersedia jika harus mengantar saya pulang pergi Pekalongan – Semarang dengan mengendarai sepeda motor untuk menghemat biaya. Saya tidak membantah orang tua saya waktu itu. Entah mengapa saya tidak pernah mempunyai kekuatan untuk melakukan hal demikian. Namun, bukan berarti saya baik-baik saja. Setelah masuk kamar, saya langsung menangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak? Saya hampir saja meraih mimpi saya, tetapi orang tua mencegah saya untuk menggapai mimpi itu. Namun demikian, saya sadar. Bagaimanapun juga, ridho orang tua adalah kuncinya.
Perlahan, saya mulai melupakan UGM dan mencoba mencari informasi tentang prodi yang sama di universitas berbeda hingga akhirnya saya memantapkan diri untuk mengambil prodi di universitas yang ada di Semarang tersebut. Pada saat mendaftar SNMPN, saya hanya mengisikan satu prodi saja di satu universitas. Berbekal ridho orang tua saya, bismillah saya yakin saya akan diberi hasil yang terbaik. Namun, saya dikejutkan dengan data yang menunjukkan bahwa tidak ada satu pun anak IPA yang diterima di prodi yang saya pilih melalui jalur SNMPTN tahun sebelumnya. Kegalauan kembali menghinggapi saya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Di UGM, anak IPA banyak yang lolos SNMPTN Sastra Inggris, sementara di universitas yang saya pilih, tak ada satupun anak IPA yang lolos. Setelah saya bertanya pada guru BK saya, beliau berkata bahwa universitas tersebut memang menetapkan semacam peraturan bahwa anak IPA tak boleh memilih prodi yang ada dalam kategori Soshum.
Bagaimana ini? Saya pun berusaha membujuk orang tua saya agar saya diperbolehkan mengambil prodi yang sama di UGM yang memiliki peluang lebih besar. Jawaban mereka masih sama, tidak mengijinkan. Saya pun menceritakan hal ini kepada teman-teman terdekat saya. Mereka menyarankan saya untuk tetap mengikuti saran orang tua saya karena ridho orang tua adalah kuncinya. Selanjutnya saya melakukan sholat istikhoroh untuk memantapkan keputusan saya. Namun, apa yang saya dapat? Justru petunjuk yang saya dapat adalah universitas yang saya pilih bukan yang terbaik untuk saya. Saya semakin dibuat bingung dan galau. Akhirnya saya mengadukan masalah ini kepada guru BK saya. Beliau meminta orang tua saya untuk menemui beliau di sekolah. Esoknya, ibu saya datang menemui guru BK yang ternyata membicarakan masalah studi lanjut saya. Entah dengan mantra apa tiba-tiba ibu saya mengijinkan saya untuk mengambil prodi Sastra Inggris di UGM, begitu juga dengan ayah saya.
Saya langsung mengganti pilihan prodi saya di laman SNMPTN, dengan prodi Sastra Inggris UGM di pilihan pertama dan prodi yang sama di universitas lain sebagai pilihan kedua. Saya sengaja mengosongkan pilihan ketiga. Bismillah, dengan ridho Allah, waktu itu saya berharap semoga Allah juga memberikan hasil yang terbaik untuk saya. Entah di UGM entah di universitas lain nantinya, saya telah berjanji untuk menjalani studi saya dengan sebaik mungkin.
Sekarang saya telah dinyatakan lulus SNMPTN di UGM dengan prodi Sastra Inggris. Saya juga telah menyelesaikan registrasi yang sangat banyak itu. Beberapa bulan lagi saya akan memulai studi saya di UGM. Saya tidak akan menyia-nyiakan rezeki diterima di PTN yang saya inginkan. Saya juga siap menerima tantangan dari ayah saya yang meminta saya menuntaskan studi saya kurang dari empat tahun plus dengan predikat cum laude.
Intinya, apapun yang akan kita lakukan, kuncinya hanya satu: ridho orang tua. Jika saja orang tua saya tetap tidak ridho saya di UGM, waktu itu saya tidak akan mengambil prodi Sastra Inggris di UGM. Bisa saja jika saya nekat, saya justru tidak akan diterima. Namun, setelah mendapat ridho dari orang tua, saya berani mengambil prodi yang saya inginkan di UGM. Apapun keinginan kita, jika orang tua sudah meridhoi, yang terlihat tidak mungkin, insya Allah, bi idznillah, akan menjadi mungkin.
“Ridho Allah adalah karena ridho orang tua dan murka Allah adalah karena murka orang tua.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *