Indonesia Pasti Bisa! | Iqbal Habibi Kamal – Teknik UGM

Dahulu bersilaturahmi dengan mereka yang berbeda pulau hingga berbeda negara, perlu menyeberangi laut berhari-hari, bahkan bisa sampai berminggu-minggu ataupun berbulan-bulan. Namun, kini hanya membutuhkan sekitar waktu satu jam hingga maksimal belasan jam dengan teknologi pesawat terbang, moda transportasi paling elite di antara yang lainnya.

Travelling adalah kegiatan yang sungguh mengasyikkan. Kita dapat merasakan nuansa baru, memahami perbedaan, dan tentu pengalaman akan banyak mengajarkan tentang suatu hal yang baru. Menjadi traveller pun adalah impian banyak orang, berharap dapat mengelilingi minimal negeri sendiri, dan maksimal bisa mengelilingi dunia. Ibarat hidup tak ada beban, kita hanya menikmati ciptaan tuhan.

Bulan Juli kemarin saya mendapatkan kesempatan untuk menambah list tempat yang pernah saya singgahi. Berbeda dari sebelumnya, kesempatan pertama yang akan menjadi terbiasa. Waktu itu saya berkunjung ke Negeri Jiran Malaysia. Ekspektasi awal, ingin menjadi seorang minoritas. Ingin makan dan ibadah sulit, perlu bahasa Inggris yang baik dan bermain bersama orang-orang asing.

Realitasnya jauh dari ekspektasi, Bertemu banyak keluarga yang baru dikenal, makan, dan beribadah sama mudahnya dengan di tanah air. Bahasa Melayu pun identik dengan bahasa Indonesia sehingga pemakaian bahasa Inggris hanya ketika bertemu dengan orang pendatang yang dari Eropa. Namun, di balik sedikit kekecewaan tersebut saya banyak belajar dari negeri ini.

Ada beberapa yang saya perhatikan, mulai dari aspek pendidikan, jaminan ekonomi masyarakat, kondisi kesenjangan, pola hidup yang menjadi sebuah keunikan dalam keberagaman, serta sistem pemerintahan yang berbeda dengan Indonesia. Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan beberapa opini pribadi yang murni dari saya, semoga dapat menjadi pencerahan baru untuk pembaca.

Dalam aspek pendidikan, belajar di luar negeri mungkin saja menjadi rasa gengsi tersendiri. Namun, siapa sangka selama di sana saya bertemu dengan beberapa teman WNI yang menimba ilmu di sana, mayoritas dari mereka belum bisa nyaman tinggal dan belajar di Negeri Jiran tersebut. Mereka memiliki hambatan dalam proses belajar maupun dengan kehidupan sosial sesama mahasiswa di sana.

Tak jarang mahasiswa Indonesia mendapatkan olokan. Sungguh sangat disayangkan ketika ingin belajar, tetapi yang didapatkan hanya tekanan. Begitu pula dengan kurikulum akademik yang dirancang mungkin tidak sekomprehensif di Indonesia. Saya akui proses belajar di Indonesia bila dibandingkan masih unggul dari negara tersebut.

Jaminan ekonomi masyarakat merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam menjalankan roda kehidupan bernegara. Kondisi ekonomi berdasarkan informasi yang saya dapat, masyarakat terjamin dengan pendapatan yang cukup tinggi tetapi biaya hidup tidak melangit. Contohnya gaji seorang guru per bulan sekitar sepuluh juta rupiah, sedangkan untuk kepala sekolah dapat mencapai tiga puluh juta rupiah. Dengan gaji yang jauh dengan negeri kita, siapa yang tidak tertarik dengan tawaran hidup seperti ini? Sayangnya, rasa nasionalisme dalam diri saya masih tinggi. Saya termasuk orang yang tak tertarik untuk mencari nafkah di negara ini.

Kondisi kesenjangan adalah hal yang menarik yang selalu saya perhatikan di Indonesia. Kabarnya ada seorang warga negara Indonesia yang memiliki harga hampir setengah kekayaan negara, sedangkan masih banyak masyarakat yang untuk makan hari ini saja masih berpikir dan mencari cara mendapatkannya. Itulah kesenjangan di Indonesia yang begitu tinggi adanya.

Bagaimana dengan di Malaysia? Kesenjangan itu pasti ada. Saya tidak memiliki data yang rigid, tetapi sepenglihatan saya dan sumber informasi dari saudara yang tinggal di sana, masyarakat yang berada pada kelas ekonomi menangah ke bawah dalam persentasenya tidak sebanyak di negara kita.

Hal terakhir yang selalu menjadi perhatian rasa penasaran saya yang tinggi adalah sistem pemerintahan dan sistem tata negara. Menganut sistem monarki alias kerajaan sehingga akan ada sosok yang dimuliakan, sosok yang menjadi ujung tombak dalam setiap keputusan di mana kewenangan tertinggi miliknya. Berbeda dengan negara penganut demokrasi, posisi eksekutif pemerintah dan rakyat berapa pada garis sejajar sehingga wajar ada istilah penggulingan presiden oleh rakyat seperti di Indonesia zaman orde baru dahulu.

Selain itu, perbedaan proses perjuangan mendapatkan kemerdekaannya yang berbeda. Malaysia merdeka atas pemberian Inggris, sedangkan Indonesia atas perjuangan pahlawan terdahulu. Sehingga berdampak kepada pola masyarakat di sana, masyarakat Malaysia identik menurut setiap kebijakan pemerintah bahkan dapat bersifat apatis terhadap sekitar, serta pola masyarakat Indonesia yang cenderung selalu mencari yang benar bila ada yang kurang sepakat.

Aksi demonstrasi sudah menjadi sebuah kewajaran di negara demokrasi. Poin yang ingin saya sampaikan adalah dengan tingginya wewenang sultan di Malaysia, tetapi mengapa masyarakat bisa mencintainya? Roda perekonomian berjalan lancar dan kehidupan sosial tenteram tanpa adanya diksi yang mengikat seperti “intoleran” yang sedang marak di Indonesia.

Dalam tulisan ini, saya bukan ingin menyebarkan aura negatif. Saya ingin menciptakan aura optimistis, ingin berupaya untuk mengajak melangkah lebih berani, tentunya juga dengan sedikit mengingatkan pemerintah agar lebih bisa menggunakan wewenangnya secara bijak tanpa ada kepentingan pribadi yang mengalahkan kepentingan umat. Saya yakin Indonesia akan menjadi negara yang kuat kelak sesuai prediksi 2045 “Indonesia Emas” dan itu tak akan terjadi bila tidak dimulai dari sekarang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *