Di awal kalimat ini, aku akan katakan bahwa caritaku bukanlah cerita yang unik. Sekali lagi bukan cerita yang unik. Mungkin cerita ini bisa di bilang cerita mainstream atau apapun itu. Aku saja bingung akan memberikan judul apa cerita pada ini. Tapi, jika kau masih ingin membacanya, baca saja cerita pendekku ini. Ikuti saja jalannya.

Semuanya berawal ketika aku harus menerima sesuatu yang amat berat diterima, yang rasanya menghancurkan semuanya. Akhirnya sebuah keputusan aku ambil untuk menetap, tidak kemana-mana. Hanya bisa memandangi mereka yang perlahan bergerak pergi, memandangi dengan tangisan yang berusaha ditahan di tenggorokan, mungkin wajahku merah saat itu.

Pada saat itu, rindu yang terobati berubah menjadi rindu yang lapar sua, yang haus pertemuan. Aku menikmati rindu itu setiap harinya, menikmati dengan caraku sendiri, tak banyak orang tahu karena aku menyimpannya sendirian. Rasanya hidupku berjalan seperti biasa, dengan mauku. Tapi ternyata, aku salah. Ada orang yang kecewa dengan keputusanku untuk menikmati rindu ini. Mereka memintaku untuk mengikuti suatu kegiatan selama satu bulan lamanya, bagiku sangat lama kala itu.

Aku menjalani kehidupan satu bulan itu ditemani rindu yang selalu memelukku. Otakku selalu berkata jika hatiku takkan ada ditempat itu, tapi sekarang aku juga tidak mau memunafikkan diri jika aku  menikmati kehidupanku selama satu bulan ditempat itu. Setelah semuanya selesai, rindu itu masih ada dan hidupku terus berjalan. Sampai pada satu titik jika aku bosan dengan rindu. Bukan bosan, lebih kepada menyadari ternyata rindu yang aku rasakan selama ini salah. Aku salah menikmatinya, karena aku hanya menunggu rindu yang dinantikan itu datang, tanpa aku berusaha menjemput rindu itu sendiri. Padahal, aku sendiri yang mengatakan jika hidupku harus terus berjalan dengan rindu yang masih menetap malah sering menyalahkan diri sendiri, merutuki nasib yang tidak akan berubah jika hanya diratapi dan dirutuki. Life must go on. Ketika sadar itu menyadarkan hati dan pikiranku, aku bangkit, berusaha untuk mengejar rindu itu dan mensyukuri apa yang aku rasakan dan apa yang aku dapatkan sekarang. Karna aku tahu, Allah punya rencana indah untukku.

Untuk kau yang membaca cerita ini sampai selesai, aku harap kau jangan sepertiku. Bersyukurlah selagi oksigen masih bisa bertukar dengan karbon dioksida pada alveolusmu, jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk penantian sia-sia, bekerjalah, raih cita-citamu yang belum sempat kau raih. Jangan pedulikan masa lalumu, karena mereka akan selalu di belakang. Cintai orang yang mencintai dan menyayangimu, jangan kecewakan mereka hanya karena sikapmu. Dan lakukan semuanya karena-Nya, niatkan ibadah.

Ini ceritaku, tidak ada yang unik memang, tidak sampai seribu kata sepertinya, lima ratus pun tak sampai. Terlalu datar, karena jujur aku tak pernah menulis sepanjang ini kecuali tugas cerpen dari guru bahasa indonesia. Sekian dariku, terima kasih.

 

Aisyah Putri Fidani

@ayfidani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *