Nobar Perdana Film “Tuah Untuk Ajeng”

Jum’at (17/11) bertempat di Ruang Audiovisual Grahatama Pustaka, film produksi Badan Lingkungan Hidup Daerah Istimewa Yogyakarta ditayangkan perdana sebagai wujud sosialisasi kepada masyarakat mengenai keanekaragaman hayati. Film garapan sutradara Puranti Wiji Rahayu menuai pujian dan penilaian positif bagi para penontonnya, pasalnya cerita yang diangkat menarik dan cukup menggelitik terkait dengan budaya keris warisan Indonesia yang dikemas secara apik melalui cerita anak muda yang mengajak kita untuk concern dalam upaya penyelamatan jenis tanaman yang sudah langka, salah satunya bibit timoho yang digunakan sebagai warangka keris.

Melalui penuturan sutradara, yakni Ibu Anti, cerita dalam film ini dilatarbelakangi oleh anggapan masyarakat tentang keris lebih kepada nuansa yang berbau mistik dan gaib, padahal ada sisi lain positif yang semestinya mampu kita ambil secara lebih nalar yakni soal pelestarian budaya Jawa pada khususnya. Bahkan keris menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia melalui UNESCO, namun sayangnya dalam perkembangan di era kemodern-an generasi saat ini tidak banyak mengenal karena pelestarian tanaman pembuatan beberapa bagian keris pun sudah hampir langka. Berlatarbelakang cerita dua orang anak muda yakni Pandu dan Damar dalam pencarian keris bertuah untuk membantu Ajeng dalam persyaratan ayahnya, Pak  sebagai bupati sekaligus dalang. Kisah perjalanan menemukan keris berujung pada pemahaman bahwa bukan soal mengenai bagaimana keris itu bisa menjadi kuat dengan berbagai ritual mistis yang biasa didengar oleh masyarakat, namun lebih kepada pengetahuan budaya yang bersinggungan dengan upaya pelestarian alam.

Film berdurasi 1,5 jam ini mengundang beberapa gelak tawa penonton dalam beberapa scene yang diperankan oleh beberapa aktor yang berasal PNS yang mau turun andil menyukseskan proyek film pertama BLH ini. “Dengan melihat antusias penonton kami akan memutarkan film ini di TV lokal dan masih akan diputar di Grhatama Pustaka ini sesuai jadwal. Harapannya kami bisa menyampaikan maksud tujuan sosialisasi kepada masyarakat sehingga masyarakat bisa paham dan ikut melestarikan lingkungan juga” tutur Bu Anti.  Ke depan, BLH berencana untuk membuat film kembali dengan mengangkat isu menarik yang dapat dikaitkan dengan pelestarian alam dan budaya, “Saya kepikiran untuk episode film selanjutnya adalah tentang batik, dimana telah menjadi warisan yang populer di masyarakat namun masih banyak yang belum mengetahui filosofi di beragam corak batik”, tutur Bu Anti bersemangat. So, kalian bakal kepengen nonton ini gak? Dijamin deh manfaat banget bin kekinian deh buat anak muda yang peduli sama lingkungan dan budayanya juga. (RED/RA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *