“SEBERAPA BESAR KEMANUSIAANMU?”

Keknya gue salah milih jurusan, deh!” –pikiran ini selalu berseliweran disemester 2 saat saya mendapat mata kuliah Biopsikologi. Alasannya, tidak ada amigdala dan kawan-kawannya di Buku Akuntansi saya waktu SMA.

Fix tahun depan gue pindah fakultas!” –kali ini, pikiran ini yang bersarang selama semester 3 saat saya mendapat Mata Kuliah Psikometri. Alasannya, dosennya nggak jelas!

Semester 4, banyak mata kuliah yang tidak saya sukai karena berbagai hal. Mantap, tahun ini saya ingin pindah fakultas sebelah. Setidaknya harapan saya sastra dapat membuat saya tenteram. Namun suatu hari, salah satu sesi mata kuliah wajib yang dosennya cukup menarik, Kesehatan Mental, membuat saya terhenyak. Bukan dosennya, tapi tugasnya.

“Tugas Akhir: membuat media promosi Kesehatan Mental. Karya terbaik akan dapat hadiah!”

Saya berpikir keras, kesehatan mental sejauh yang saya tahu memiliki cakupan yang sangat luas. Apa yang akan saya tampilkan? Terlebih, saya jarang sekali memerhatikan waktu di kelas. Bahkan dosen yang menarik itu pun tidak mampu membuat saya mencintai mata kuliah itu. Seluruh perhatian saya teralih entah kemana semau saya. Dengan dongkol, saya mencoret-coret kertas untuk mencari inspirasi yang tak kunjung muncul.

Handphone saya berdering, menandakan ada pesan masuk. Ibu mengirim pesan, “Gek opo?”(lagi apa?). Saya membalas dengan keluhan tugas yang tak kunjung mendapat ide itu. Dan jawaban ibu seolah membakar sumbu diotak saya yang lembab. Kenapa tidak terpikir sejak tadi? Tak lama, kertas saya sudah penuh dengan coretan konsep video promosi tentang panti rehabilitasi mental yang ada di daerah saya.

Beberapa hari saat akhir pekan, saya mengunjungi panti itu untuk observasi sekadar melengkapi konsep yang sudah terencana matang. Namun salah satu pertanyaan klien disana membuat saya mengubah konsep saat itu juga: “Mbak, kapan saya pulang?”. Mungkin bagi saya, pertanyaan itu tidak terlalu saya pusingkan karena saya bisa pulang sewaktu-waktu. Namun bagi mereka, jawaban itu selalu mereka tunggu-tunggu dan sayangnya tidak ada yang tahu pasti kapan mereka akan pulang. Pulang yang pulang, bukan hanya dikembalikan ke keluarga. Pulang yang menentramkan, tidak dengan pasung atau judgement masyarakat lagi.

Proses pembuatan video promosi sangat saya nikmati, mungkin menjadi satu-satunya proses mengerjakan tugas kuliah yang paling menyenangkan bagi saya. Saya bangga dengan hasil saya, karena tujuan promosi saya adalah keluarga dan masyarakat sekitar orang dengan gangguan jiwa tidak lagi menolak mereka, supaya proses terapi dan pengobatan yang sudah dilakukan tidak sia-sia. Hingga diakhir semester saat presentasi tugas, walau saya tidak mendapat hasil terbaik, saya tetap bangga dengan hasil kerja saya.

Suatu kali saat minggu tenang UAS, saya iseng melihat video itu lagi. Saya ulangi beberapa kali, dan tiba-tiba terbersit pertanyaan, “apa yang akan kau lakukan untuk mereka?”. Tidak main-main, pertanyaan itu menyeret saya pada niat awal saya masuk ke Fakultas Psikologi, yaitu mengubah pandangan masyarakat pada orang dengan gangguan jiwa. Walau belum sepenuhnya terwujud, setidaknya mengubah pandangan satu orang yaitu saya.

“Seberapa banyak pikiran yang akan kau ubah jika kau kembangkan hasil kerjamu ini?” –pikiran ini menghantui malam-malam UAS 4 saya.

Sebentar lagi kerjamu akan lengkap. Suara mereka juga harus didengarkan dunia!” –tekad saya setelah kunjungan ke panti rehabilitasi sosial saat semester 5.

Seberapa besar kemanusiaanmu?” –kini, kalimat ini menghiasi hari-hari saya semester 6 ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *