Kuliah di UGM itu mustahil untuk anak SMK dan anak kampung?

Perkenalkan nama saya Sugeng Tri Wahono. Seorang alumni SMK yang mempunyai mimpi terlalu tinggi, ingin melanjutkan studinya sampai Perguruan Tinggi. Saya seorang putra dari seorang Nelayan biasa di pantai daerah Desa Kertojayan, Kecamatan Grabag, Purworejo. Saya lulusan SMKN 2 Purworejo Jurusan Pemasaran 2016. Dapat dibilang bahwa Jurusan Pemasaran termasuk jurusan yang rendah di SMK saya. Dan ya, banyak cacian, hinaan, maupun cemoohan orang yang saya terima karena keterbatasan yang saya miliki.

Dari SMP mengapa saya memilih SMK karena diharapkan setelah lulus dari SMK saya dapat langsung kerja. Namun kenyataan berkata lain dimana usia saya ketika lulus pada tanggal 5 Mei baru berusia 17 tahun 5 bulan. Di bawah usia minimal pekerja yang dipersyaratkan. Sebelum menghadapi semester terakhir di SMK, saya mulai berganti haluan untuk memilih melanjutkan studi saya ke jenjang Perguruan Tinggi. Agak muluk-muluk memang, namun begitulah kenyataannya. Dan berikut adalah proses saya sebelum menjadi mahasiswa seperti sekarang.

Pada bulan Desember, saya sudah memikirkan mau melanjutkan ke prodi apa dan universitas mana. Ya, pada saat itu keluarga saya masih mendukung apa yang akan saya pilih. Dan pilihan yang pertama adalah Universitas Negeri Yogyakarta dengan Prodi Manajemen. Setelah mendekati seleksi SNMPTN, saya sudah menentukan prodi apa saja yang ingin saya masuki. Dan akhirnya saya memilih S1 Pariwisata UGM pada pilihan pertama, pada pilihan kedua saya memilih S1 Manajemen UNY, dan pada pilihan terakhir adalah S1 Manajemen UGM. Mungkin menurut beberapa orang, urutan pilihan saya adalah salah. Namun dari SNMPTN saya tidak terlalu berharap karena pada dasarnya lulusan SMK peluang untuk lolos dari jalur SNMPTN relatif kecil. Dan bisa ditebak akhirnya, saya gagal dari jalur SNMPTN. Kata “maaf” pertama yang saya dapat pada tahun 2016. Tanpa berfikir panjang saya mendaftar SBMPTN dengan memilih panlok Kota Yogyakarta. Namun saya juga mendaftar untuk magang selama 1 bulan pada sebuah minimarket dekat SMK saya dari Bulan Mei sampai Juni. Sedangkan, ujian SBMPTN berada pada pertengahan saya magang. Saya mencoba meminta izin dari Kepala Konter tempat saya magang. Dengan alasan yang jelas saya diperbolehkan untuk izin selama 2 hari. Saat berangkat menuju Yogyakarta, saya membonceng teman saya satu desa untuk sama-sama menuju Yogyakarta dengan menggunakan motor teman saya. Saat di Yogyakarta saya menginap di kontrakan saudara teman saya di daerah Ringroad Utara sebelah timur UPN Veteran Yogyakarta. Pada SBMPTN ini saya memilih prodi S1 Manajemen UNY, S1 Ilmu Komunikasi UNY, dan S1 Ekonomi Pembangunan UNS. Dan saya ujian di UNY.

Karena saya dari SMK yang notabene materi SMA tidak ada kecuali ekonomi, saya mengulang materi mulai dari awal dimana saya mempelajari Sejarah, Geografi, dan Sosiologi dalam waktu yang dapat di bilang sangat terlambat. Dan hari dimana ujian di mulai, dengan gugup saya mulai mengisi lembar jawab saya satu demi satu yang mana tak semua nomor dapat saya kerjakan. Banyak nomor yang saya kosongi untuk menghindari pengurangan penilaian. Dan setelah selesai melaksanakan ujian, saya pun pulang menuju kontrakan saudara teman saya. Setelah sampai di kontrakan saudara teman saya, saya mulai berkemas untuk pulang ke Purworejo, namun teman saya memilih pualng pada hari berikutnya. Karena sudah larut malam dan hujan yang melanda, saya diantarkan oleh teman saya menuju Stasiun Tugu Yogyakarta dengan kereta komersil biasa bukan menggunakan kereta lokal yang umum digunakan oleh masyarakat dengan alasan harga yang lebih ekonomis. Sesampainya di Stasiun Kutoarjo, saya sudah dijemput oleh bapak saya. Dan perjalanan kami lanjutkan menuju rumah dengan kondisi jalan yang sudah sepi dan gelap.

Beberapa minggu setelah ujian, tinggal saya menunggu hasil dari ujian saya. Dan dapat di tebak, kata “maaf” yang kedua kalinya saya dapat. Ya, saya gagal pada SBMPTN 2016. Dan saya pun sudah menyelesaikan magang saya selama 1 bulan tersebut. Setelah mendapatkan gaji yang tak seberapa, saya beranikan diri untuk mendaftarkan diri mengikuti Seleksi Mandiri UNY. Dari seleksi ini saya memilih D3 Teknik Boga dan D3 Manajemen. Dan kali ini, saya mengikuti seleksi dengan 5 teman saya. Namun saya memilih kost sendiri.

Setelah selesai ujian, kami menunggu Transjogja di halte depan UNY, hari sudah makin larut dan jadwal kereta lokal sudah mendekati berangkat. Karena terdesak waktu, kami memilih taksi yang harganya lumayan lebih mahal sampai Stasiun Tugu Yogyakarta. Dan akhirnya kami tidak sampai tertinggal kereta lokal tersebut. Beberapa minggu kemudian, pengumuman kelulusan diumumkan. Dapat di tebak untuk ketiga kalinya, saya gagal. Hal tersebut sudah menambah beban saya dimana saya sama sekali tidak lolos melanjutkan studi saya pada tahun seleksi 2016 sedangkan apabila saya memilih untuk melamar pekerjaan juga belum bisa karena usia yang belum mencukupi.

Setelah kegagalan yang saya dapatkan pada tahun 2016 dari seleksi masuk perguruan tinggi negeri dan melamar pekerjaan, ada beberapa orang yang mengejek hingga menghina kegagalan yang saya dapatkan. Sakit memang dimana ekspektasi saya setelah lulus SMK untuk dapat langsung kerja pupus. Bahkan dari keluarga mulai tidak mendukung saya untuk melanjutkan studi saya. Terutama ibu saya yang pernah berkata “Ra usah mikirke kuliah. Gelem ra gelem koe kudu kerja”. Pernyataan ibuku saat itu menjadi cambukan bagi saya untuk menyerah sebelum saya berjuang kembali. Hari demi hari saya lalui dengan hinaan dan cemoohan yang mungkin sedikit berlebihan. Namun dari situ saya menyadari bahwa tak selamanya percobaan itu akan menghasilkan keberhasilan.

Pada awal tahun 2017 dimana informasi mengenai pendaftaran seleksi masuk perguruan tinggi sudah dimulai. Dan dari sini saya tidak boleh ceroboh untuk menentukan pilihan serta mempergiat belajar saya. Saya pun sudah membuat rencana mau mendaftar dimana dan melewati jalur apa. Dimulai SBMPTN, SMUNS, dan SMUNY, tanpa memikirkan untuk mendaftar UGM. Pada tahun 2017 ini, saya tidak memberitahu orang tua saya bahwa saya mendaftar seleksi masuk. Pada bulan April, dimana pendaftaran untuk SBMPTN sudah di buka, saya memilih S1 Pendidikan Ekonomi UNS, S1 Design Komunikasi Visual UNS, dan S1 Pendidikan Ekonomi UNY. Namun 1 minggu sebelum Ujian SBMPTN yang bertepatan dengan penutupan UM UGM 2017, saya dihubungi teman saya yang sudah lebih dulu lolos di UGM untuk memberanikan saya mendaftar UGM 2017. Saya pun sedikit ragu saat itu karena menurut saya UGM terlalu tinggi untuk saya. Namun teman saya berkata “Daftar wae mbok menowo rejekimu”. Setelah itu saya pun masih memikirkan tawaran tersebut. Dan saya bercerita pada teman saya yang sudah berkuliah di UNS mengenai tawaran dari teman saya di UGM. Karena pada saat itu saya tidak ada uang untuk mendaftar, saya di tawari untuk dipinjamkan uang oleh teman saya di UNS tadi. Saya pun akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar UM UGM 2017. Dan setelah itu, saya memberitahu kepada ibu saya mengenai saya yang mendaftar SBMPTN 2017 dengan menunjukkan kartu ujian SBMPTN saya pada malam hari. Dan dapat di duga, ekspresi ibu saya hanya diam, datar, dan tanpa komentar. Namun pada pagi harinya beliau berkata “Yo wes rono dijajalen mabeh”. Dari situ saya seperti mendapat semangat untuk mengikuti ujian SBMPTN. Namun saya tidak memberitahu bahwa saya mendaftar UM UGM. Dan 1 hari sebelum SBMPTN, saya berangkat ke Yogyakarta dengan berbekal uang Rp 100.000 untuk 3 hari 2 malam termasuk untuk biaya transportasi. Dapat di hitung berapa sisa uang saya apabila digunakan untuk menggunakan 2 kali kereta lokal dengan harga Rp 8.000 sekali keberangkatan dan 7 kali menggunakan Transjogya seharga Rp 3.500 sekali keberangkatan. Dan sisanya untuk biaya makan saya selama 3 hari 2 malam di Yogyakarta. Pada SBMPTN kali ini saya berangkat ke Yogyakarta dengan 1 teman saya dari SMP saya dulu. Dan kami pun menginap di Gelanggang Mahasiswa UGM karena disediakan tempat untuk menginap bagi para Camaba 2017. Berbeda dengan SBMPTN 2016, pada SBMPTN 2017 saya mengikuti ujian selama 2 hari. 1 hari ujian tulis dan 1 hari ujian keterampilan. Sedangkan teman saya hanya 1 hari ujian tulis. Sehingga teman saya pulang lebih cepat daripada saya. Pada ujian tulis, saya dan teman saya ujian di UPN Veteran Yogyakarta dan untuk ujian keterampilannya di UNY. Setelah ujian tulis berakhir, dan waktu sudah cukup sore kami memutuskan untuk langsung menuju Stasiun Lempuyangan untuk mengantarkan teman saya kembali ke Purworejo. Di Stasiun Lempuyangan, kami bertemu dengan temen saya yang sudah mendapatkan tiket kereta lokal. Namun, tiket kereta lokal sudah habis dari Stasiun Lempuyangan. Tanpa saya sadari ada adik kelas saya di samping saya dan dia menawari saya bahwa ada temannya yang kelebihan tiket kereta namun temannya berada di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kami pun berlari menuju Stasiun Tugu Yogyakarta dimana jarak antara kedua stasiun ini cukup jauh dan terdesak waktu yang mendekati jadwal keberangkatan kereta. Dan kami memutuskan untuk menaiki becak menuju Stasiun Tugu Yogyakarta. Sampainya disana, kami pun dapat mendapatkan tiket untuk kembali pulang ke Purworejo namun saya masih harus tinggal di Yogyakarta.

Ujian keterampilan adalah hal baru bagi saya, dimana ujian keterampilan saya adalah menggambar karena saya saya memilih prodi S1 Design Komunikasi Visual UNS. Dan setelah selesai saya pun langsung menuju Stasiun Tugu Yogyakarta.

Pada hari Minggu tanggal 21 Mei 2017, saya berangkat lagi ke Yogyakarta untuk mengikuti UM UGM, tempat ujian saya adalah di SMAN 8 Yogyakarta. Saya berangkat ke Yogyakarta pukul 05.00 dari rumah menuju Stasiun Kutoarjo. Saya ikut kereta lokal jadwal keberangkatan pukul 06.00 dengan alasan untuk liburan di Yogyakarta bersama teman saya supaya orang tua saya tidak curiga dengan apa yang akan saya lakukan. Sesampainya di Stasiun Tugu Yogyakarta, saya lanjutkan dengan menggunakan Transjogja menuju SMAN 8 Yogyakarta. Saya pun memasuki Gedung SMA N 8 Yogyakarta yang nampak sepi dari luar dan ternyata sudah ramai di dalam. Saya pun mengamati beberapa peserta lain. Mereka tampak lebih pintar, lebih modis, dan terlihat lebih layak untuk masuk UGM dibandingkan dengan saya. Waktu ujian, dikarenakan kecapekan dan sedikit tak enak badan, ujian saat itu membuat saya sedikit takut akan sesuatu yang mungkin saja terjadi. Minder, sakit, serta soal yang menurut saya sulit, membuat saya beberapa kali menundukkan kepala ke meja. Dan setelah ujian selesai pukul 16.00 saya langsung menuju halte Transjogja dimana saya harus berjalan cukup jauh dan menunggu Transjogja cukup lama. Tanpa saya sadari waktu sudah menunjukkan pukul 16.45 dan saya semakin takut apabila saya tertinggal kereta saya pada pukul 17.30. Akhirnya Transjogja yang akan saya naiki datang namun harus transit di halte RS Bethesda Yogyakarta. Saya pun kembali menunggu sampai pukul 17.00. Dan akhirnya Transjogja yang akan saya naiki menuju halte Malioboro 1 datang. Sampainya di halte Malioboro 1, waktu sudah menunjukkan pukul 17.28. Saya pun berlari cukup jauh menuju pintu masuk Stasiun Tugu Yogyakarta. Sampainya di stasiun, saya langsung Check In dan langsung menuju peron dimana kereta berhenti. Setelah sampai peron, tak lama kemudian kereta pun dating dan saya cukup lega dimana saya tidak tertinggal kereta.

Setelah beberapa minggu berikutnya, dimana SBMPTN diumumkan siapa yang lolos tepatnya tanggal 13 Juni, saya sudah menebak saya takkan lolos dan benar saja, saya gagal lagi pada 2017. Dan saya sudah yakin untuk langsung mendaftar SM UNY pada hari Senin berikutnya. Pada tanggal 16 Juni malam, adalah hari dimana pengumuman UM UGM. Saya pun sudah tidak berharap lolos UGM, namun saya membuka pengumuman pada tanggal 17 Juni pagi pukul 01.00 tepat. Saya pun iseng untuk membuka pengumuman dengan hati yang sedikit khawatir juga. Saya buka web UM UGM, dan masih menemui Server Down. Namun setelah saya refresh berkali- kali akhirnya saya dapat masuk. Saya pun sudah berasumsi bahwa saya tak akan lolos. Dan saya bingung ketika pada halaman awal taka ada kata “maaf atau selamat”, yang ada adalah opsi “detail”. Dan saya klik opsi tersebut. Dan saya masih saja bingung kenapa tidak ada pernyataan lolos atau tidak. Namun saya scroll down ternyata terdapat opsi “pengumuman” dan saya klik opsi tersebut. Terdapat pernyataan berupa Nomor Peserta, Nama Peserta, dan Pernyataan kelolosan.

Di situ terdapat pernyataan “Selamat, Saudara/i lolos secara akademik pada Program Studi D3 Ekonomika Terapan SV”

Saat membaca pernyataan tersebut, saya tak sadar bahwa saya lolos. Namun tiba-tiba, hati saya berdetak kencang dan tanpa saya sadari air mata saya keluar dengan sendirinya. Saya pun menangis sejadi-jadiya sampai ibu saya terbangun dan bertanya kenapa saya menangis di malam hari. Saya pun menjawab “ Aku lolos UGM” dalam keadaan masih menangis dan dengan nada yang agak tersedu-sedu namun masih terdengar jelas. Ibu saya yang berbeda kamar pun ikut menangis dan membuka pintu kamar saya dan memeluk saya erat. Dari situ saya merasakan apa yang namanya keberhasilan yang tidak saya duga. Masih dengan keadaan menangis, saya menghubungi teman saya yang telah meminjami saya uang untuk mendaftar UM UGM bahwa saya telah lolos UGM dan ia pun ikut menangis. Beberapa orang terdekat saya pun saya hubungi satu persatu bahwa saya telah lolos di UGM.

Pada malam itu, atmosfer keharuan menyelimuti keluarga saya hingga ibu saya menenangkan saya yang masih tidak dapat membendung kebahagiaan saya.

Dari kejadian tersebut, mungkin saya dapat mempercayai akan sebuah kalimat “Tuhan akan memberi apa yang umat-Nya butuhkan, bukan yang umat-Nya inginkan”

Dulu beberapa orang berkata bahwa saya tak akan mempunyai almamater negeri, itu mustahil. Namun sekarang saya dapat berkata bahwa saya telah menjadi salah satu bagian dari kemustahilan tersebut.

 

Sekian, Terima Kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *