Sosiologi Bagiku Bukan Hanya Soal Nama dan Jurusan Belaka!

Perkenalkan, saya Septia Abdul Rouf, panggil saja Septi ya! Kalau ditanya saat ini saya kuliah di jurusan apa, pasti kalian sudah tau dari judul diatas. Kalau salah sih keterlaluan banget! Saat ini saya tercatat sebagai mahasiswa Pendidikan Sosiologi, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di Universitas Pendidikan Indonesia atau yang biasa disingkat UPI. Mendengar kata Sosiologi, ini bukan suatu hal yang asing bagi para pelajar apalagi kamu yang berasal dari IPS. Berbicara tentang Sosiologi, orang-orang akan terlintas “oh iya, ilmu tentang masyarakat kan?” atau “ah paling belajar tentang sosial yang ada dimasyarakat”. Memang benar dan gak salah kok,  namun itu gambaran keseluran. Namun pada realitasnya sosiologi itu asyik! Lah kok asyik? Karena bisa belajar tentang karakteristik masyarakat, perilaku masyarakat serta bisa terjun langsung ke masyarakat itu suatu hal yang menyenangkan. Labotarium kita bukan berbentuk suatu bangunan yang terbatas oleh ruang, labotarium kita sangat luas! Bahkan saking luasnya kita bisa belarian kesana kemari dan tertawa (bukan nyanyi ya!).

Kok Pendidikan? Kenapa engga “Sosiologi” aja alias murni. Salah-satu alasanku mudah, apakah guru sosiologimu di sekolah lulusan Sosiologi Pendidikan? Coba tanyakan, jika iya maaf berati apa yang aku pikirkan ga semua benar. Sadar atau tidak, terkadang Sosiologi suka dianggap mudah dan enteng beda dengan tetangganya (apa hayo? Kalian bisa tebak). Namun pengalamanku sendiri, Sosiologi mata pelajaran yang disenangi semenjak aku duduk di kelas X. Saat dulu bersekolah MAN Model Bandung, Sosiologi menurut teman-temanku sangat membosankan, bikin ngantuk, belajarnya gitu-gitu doang! Memang akupun merasakan seperti itu, namun kembali lagi pada keminatanku di bidang sosial untuk bisa mempelajari ilmu tentang masyarakat dan menjadi seorang sosiolog. Tapi kan aku ngambil pendidikan, pasti jadi guru! Iya memang benar, aku disini didik untuk menjadi seorang pendidik yang profesional di Bidang Sosiologi serta gelarku memang akan S.Pd. Berbeda dengan mereka yang murni, mereka dicetak untuk menjadi seorang sosiolog dengan gelar S.Sos. Namun di Pendidikan Sosiologi aku belajar keduanya, dimana aku dibekali ilmu untuk menjadi pendidik serta menjadi seorang peneliti pun bisa. Namun bagiku keduanya bagus apalagi keduanya sama-sama mempelajari ilmu tentang masyarakat.

Selama belajar, kami dituntut untuk bisa berpikir lebih kritis, peka akan isu sosial dan mampu meneliti tentang suatu permasalahan yang sedang terjadi. Sosiologi sendiri menuntut agar kita bisa melihat dari kedua sudut pandang, bukan hanya menilai langsung suatu perkara yang dianggap salah lalu menyetujui suatu hal yang benar, namun kami mempelajari mengapa hal itu bisa terjadi, faktor-faktor apa saja lalu apa dampak bagi masyarakat. Kami memiliki ciri yakni nonetis, dimana kami tidak memandang baik buruknya suatu fakta maka dari itu kami akan menelitinya. Penelitian kami pun tentunya harus bersifat objektif tidak menyudutkan salah-satu pihak. Disisi lain kami sadar akan hal itu buruk dan kami memilih untuk menolaknya, namun kami akan tetap mengkaji suatu permasalahan tersebut. Isu terhangat yang kami bahas seperti kesetaraan gender, penyimpangan sosial, stratifikasi, penyimpangan seksual dan lain-lain.

Selain belajar tentang Ilmu Sosial, kamipun belajar Ilmu Budaya atau yang orang kenal dengan Antropologi. Pada dasarnya sosial dan budaya saling berkaitan, seperti halnya masyarakat erat kaitannya dengan budaya. Kebudayaan sendiri terlahir dari suatu gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Asyik bukan? Kita tidak harus hapal-hapal teori sesuai buku kok, yang dikatakan bahwa Sosiologi isinya hapalan semua itu salah besar! Hapal teori itu bagus namun jauh lebih bagus kalau kita memahami teori tersebut jadi tak usah hapal persis dengan aslinya dan bahkan kita memiliki hak untuk bisa membantah teori yang ada, lah kok bisa? Karena pada dasarnya, masyarakat bersifat dinamis dan terus berkembang. Kita tidak bisa memprediksikan apa yang akan terjadi pada masyarakat besok, lusa, minggu atau bertahun-tahun kemudian, lalu mengkaji teori tersebut dengan kondisi masyarakat sekarang apakah sesuai atau tidak. Tambah asyik kan? Jadi buang jauh-jauh kalau Sosiologi bikin ngantuk, garing, isinya hapalan semua, apalagi disebut pelajarannya itu-itu doang. Pada hakikatnya, manusia memiliki ketertarikan dan minatnya tersendiri, hal itu didapat seiring dengan waktu serta pengalaman yang didapat. Belajar dari pengalaman, masukan dari luar serta melihat sendiri suatu hal akan menjadi faktor untuk memunculkan suatu minat pada sesorang, sama halnya denganku melihat fenomena pada masyarakat membuatku ingin sekali bisa meneliti mengapa hal itu bisa terjadi, di sosiologi keminatanku untuk bisa mempelajari hal tersebut diwadahi serta diarahkan dengan semaksimal mungkin, sosiologi bagiku bukan hanya soal nama dan jurusan belaka, melainkan lebih dari itu melibatkan perasaan yang ada.

Terimakasih! Mohon maaf bila ada kata yang mungkin salah atau menyinggung seseorang, pada dasarnya ini hanya opini saya dan mari kita sharing bersama. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak teruntuk sharingbareng.com yang mungkin tulisanku ini bisa dipublikasi. Untuk teman-teman yang ingin mengetahui lebih tentang Sosiologi atau sekedar ingin bertanya bisa menghubungi saya via instagram septiaarouf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *