Mozaik Anak Dusun : Kisahku di Negeri Menara Kembar

Keluar negeri dengan gratis menjadi salah satu target saya selama perkuliahan. Dilandasi dengan pentingnya pemikiran global dan membandingkan negara kunjungan dengan negara sendiri, tapi dengan perbandingan ini bukan berarti kita hanya mengkritisi tetapi juga melakukan tindakan pembenahan. Tidak dipungkiri untuk mencapai itu sangat dibutuhkan sebuah perjuangan, bahkan sampai dengan semester lima saya baru bisa mewujudkannya. Salah satunya dalam mewujudkan impian ke Malaysia dalam program scholarion Malaysia 2018. Kisah yang akan saya tulis ini ialah sebuah kisah perjalanan saya selama 2 hari di Malaysia dalam mengikuti program Scholarion Malaysia 2018 di Kula lumpur.

Malam terakhir pendaftaran, saya masih berada di jambi independen dalam mengurus lomba yang lain. saya masih bingung antara ikut dan tidak karena saya masih belum percaya diri. Akan tetapi, dengan keinginan kuat saya beranikan diri untuk mengikuti program ini. Hampir jam 10 saya masih di kantor jambi independen dan 15 menit kemudian baru selesai mengerjakan tugas saya tersebut. Kemudian saya langsung mengajak kawan saya untuk ke ATM untuk melakukan registrasi program scholarion Malaysia ini. Namun karena jarak jambi independen ke rumah saya yang jauh sehingga saya sampai jam 11.30 p.m padahal registrasinya berakhir 30 menit lagi. Sayapun bergegas, dan akhirnya saya mengirimnya telat 30 menit.  

Saya kira saya tidak terdaftar, karena saya belum dapat email balasan. Saya pun sering email dan stalking seluruh akun Scholarion. Tanpa pikir panjang saya frustasi dan mengira event ini penipuan karena ada orang yang belum dapat email juga. Sehari kemudian saya mendapatkan emailnya, dan ternyata tim Scholarion sedang liburan hari raya dan deadline pengumpulan esainya di undur satu minggu lagi. Wajah kecewa saya langsung berubah menjadi syukur.

Singkat cerita esai saya pun jadi, saya merasa kurang percaya diri karena saya baru pertama kali menulis esai dalam Bahasa inggris. Finally, I got it. Yah saya mendapatkan peringkat 49 dari 50. Melihat kondisi ini tentu saya tidak harus tinggal diam karena mengingat saya perlu bimbingan ekstra karena peringkat saya tersebut. Lalu, saya bergegas ke International Office Universitas Jambi, dan menceritakan segalanya. Mereka pun bersedia membantu. Karena deadline creativity selection ini hanya dalam waktu seminggu, maka dalam setiap hari saya sering  bolak balik ke IO, bimbingan sama dosen dan bahkan begadang dalam merevisinya. Alhasil tidak ada usaha yang menghinati hasil. Finally I’m finally scholarion now. Yuhuuuu

Tantangan berikutnya yaitu saya harus membuat paspor, dimana salah satu kelengkapannya itu Kartu Keluraga, masalahnya adalah KK saya tidak ditandatangani oleh bapak saya dan akhirnya berbagai cara saya lakukan seperti menyetrika agar laminatingnya mengelupas dan akhinya saya putuskan untuk men-scan dan menandatangani ulang, dan lega rasanya ketika udah diterima, hehhe. But, sedihnya itu ketika saya mau ngurus paspor ternyata deadline pengumpulan paspor lebih cepat dari pada antrian pembuatan paspor saya, ujung-ujungnya tiket kepergian dari Jakarta ke Malaysia nya tidak ditanggung panitia. Tantangan demi tantangan membuat saya menyerah, namun saya harus memperjuangkannya mengingat betapa banyak sudah waktu dan tenaga yang saya keluarkan. Saya coba meminta bantuan dana dari kampus akan tetapi dari kampus meminta keterangan penyelenggara event ini. Akan Tetapi, tim Scholarion tidak memberikan itu ketika saya meminta. Keberangkatan ini saya beranikan pakai uang pribadi. Hari demi haripun berlalu dan akhirnya saatlah pada waktu yang ditiba yaitu keberangkatan menuju Malaysia..yeayyyy..

 

Besok keberangkatan program, saya hanya membawa satu tas kecil yang berisi 4 baju dan 3 buah celana. Karena saya pikir program ini begitu singkat dan tidak membutuhkan banyak pakaian. Emang ini dikira syutting film wkkwk. Singkat cerita, saya berangkat jam 07:40 AM dari Jambi ke Jakarta, kondisi ini membuat saya harus tidur di tempat teman yang rumahnya dekat bandara agar tidak ketinggalan. Sesampainya di Jakarta saya pun mencari temen-temen peserta Scholarion lainnya, dan menukar beberapa ratus uang Rupiah ke Ringgit Malaysia. Kami bercengkrama dan memulai obrolan yang baik. Karena saya dan temanku bernama Rani mempunyai nasib yang sama yaitu tidak dibiayain tiket pesawat dari Jakarta ke Malaysia dan juga satu pesawat yang sama, kami pun berangkat duluan dari peserta yang lainnya.

 

Malaysia I’m Coming…

Hmm berdecak kagum ketika sampai di Bandara Kuala Lumpur International Airport, bangunan yang nampak dari luar sangat sederhana namun ketika masuk begitu menakjubkan. Tanpa pikir panjang saya sering mengambil gambar di sela-sela perjalanan menuju pengambilan bagasi. Namun, walaupun tampak mewah, bandara ini berada jauh dari pusat kota sehingga tidak begitu ramai. Di sisi lain, dipenuhi dengan tumbuh-tumbuhan membuat udara di sini semakin segar, berbeda halnya dengan Bandara International Soekarno Hatta yang sangat dekat dengan pusat kota. Tidak jauh ketinggalan, bandara ini juga memiliki kereta cepat yang sama seperti Soekarno Hatta. Kisah lucunya ketika saya mau mengambil bagasi, ternyata tempat tiba dan bagasi itu berbeda, sehingga saya bersama Rani mengikuti papan petunjuk dan sekali kali bertanya kepada petugas bandara dan alhamdulillah nya saya bisa berbahasa Melayu sedikit karena keturunan Melayu juga heheh. Kami mengulang kereta dua kali jalan bolak-balik, karena saya kira keretanya tidak bolak balik arah.duhhh.

 

Lalu, kami bingung peserta yang lain dimana dan akhirnya lama kami menunggu di terminal 2, kawanku Rani sering mengontak mereka via Line tapi mereka merespon di pintu ini, gate itu bla bla bla. Eh ternyata kami berbeda terminal. Duh segini amat yah, sudah nunggu lama ternyata berbeda terminal. Kawanku ada yang menyusul kami, padahal dia sudah di terminal 1 sebelumnya , ia juga meluapkan kekesalan yang sama. Hmm tapi tak apalah, karena semua itu adalah pembelajaran, sekalian menikmati udara di airport ini wkkw. Culture Shock pertama disini yaitu perbedaan waktu 1 jam dari Indonesia sehingga maghrib di sini sekitar jam 7 malam, jadi saya sempat terkejut, kenapa jam 6 masih terang?

 

Kami telah berkumpul, mengambil gambar, menuju ke Putrajaya. Selama di perjalanan ini kami dipandu oleh Ibu Ida selaku tour guide kami. Dia sering menceritakan tentang tempat yang kami kunjungi. Dia orangnya sangat asik walaupun dia sering marah, karena dia ingin kami disiplin. Putrajaya ini dibangun sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kepadatan penduduk di kuala lumpur, jadi banyak sekali apartemen murah dengan bangunan yang unik di sini untuk para pekerja, sebagai penghubung juga antara Kuala Lumpur dan Bandara KLIA. Kondisi bangunan yang beragam dan terdapat sungai yang membelah menjadikan panorama malam ini begitu indah, di ujung timur terdapat Masjid Agung dan di sebelah barat terdapat Masjid Merah. Kami solat, istirahat dan makan malam di Masjid Merah. Selanjutnya, kami pergi Menara Kembar: Petronas Twin Tower. Karena hari sudah larut malam dan besok kami banyak sekali kunjungan, akhirnya kami pulang ke hotel. Culture shock kedua terjadi yaitu di hotel milik Orang India, kami disajikan makanan ala India seperti mie dan roti chanai, duh karena perut orang Indonesia seperti saya ini tetap juga lapar walaupun sudah makan mie sebanyak-banyaknya. Hahaha

 

Keesokan harinya setelah breakfast ala India yang sebenarnya saya tidak suka, kami pun melanjutkan perjalanan ke Unirazak, sebelum ke Unirazak kami mengambil gambar di Istana Negara. Ada pasukan berkuda yang menjaga dan menurut penuturan Bu Ida bahwa ia hanya menjaga sampai jam 10 pagi di gerbang Istana Negara, kemudian kami berfoto bersama Polisi penjaga gerbang istana yang berdiri mematung selama 1 jam.

 

Selanjutnya kami ke UNIRAZAK, universitas yang dibangun hanya satu gedung menjulang ini sangat menarik sekali. Karena di sini mahasiswa tidak diajarakan akademik saja tapi juga non akademik. Bayangkan saja, mereka lulus harus mengantongi ijazah akademik dan non akademik (organisasi dsb). Mereka berprinsip bahwa akademik saja tidak cukup untuk menunjang pekerjaan. Lebih menariknya lagi, mereka dikatakan telah lulus jika memiliki sebuah proyek tentang suatu hal yang mereka minati. Job create not job seeker.

 

Selanjutnya kami berkunjung ke University of Malaya, universitas terbaik di Malaysia. Berbeda dengan Unirazak. Kampus ini layaknya UI, sangat begitu luas dan memiliki beragam fakultas. Memiliki banyak mahasiswa asing yang membuatku semangat dalam menyuarakan “ Universitasku juga harus ada mahasiswa asingnya”. Karena sepengatahuanku jumlah mahasiswa asing membuat universitas tersebut ternama. Selain itu juga keunggulan research kampus ini juga sudah diakui dunia bahkan sampai ada yang menjadi tenaga medis di WHO.

Lalu kami mengunjungi Batu Cave, dimana batu ini melambangkan kebudayaan dan religius dari Agama Hindu. Banyak patung-patung serta burung-burung merpati yang jinak sehingga menambah keeksotisan tempat ini. Namun sayangnya di tempat ini hanya sebentar dan kami tidak jadi menaiki tangga. Selain itu, kami juga ke Dataran Merdeka, kami dilihatkan sebuah planning masa depan dan masa lalu untuk Negara Malaysia melalui penayangan miniatur 3D.

Dan malamnya kami harus ke Petaling Street dan Central Market karena sebagai salah satu tugas dalam mengisi form analisis market. Hari berikutnya kami packing pulang.

 

“Tidak ada yang tidak mungkin selama kamu percaya dengan mimpimu”

 

(Mozaik Anak Dusun, 10 Januari 2018)

 

Soni Afriansyah Mahasiswa Semester 6 Pendidikan Kimia Universitas Jambi yang lahir pada tanggal 08 Januari 1997.  Bertekadkan mimpi yang kuat ia mampu menembus batas batas kewajaran baginya, menjadi Delegasi Indonesia dalam Bali Democracy Student Conference 2017 dan juga Final Scholar Program Malaysia 2018. Selain itu ia juga aktif dalam organisasi nasional yaitu di Persatuan Mahasiswa Bidikmisi Nasional dan juga Founder dari Komunitas Online Zealous Generation. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita mampu, menjadikan hari-harinya penuh dengan kesibukan kuliah, organisasi, pengabadian, menjadi pemateri, juri lomba dan sebagainya. Managing Time Is Needed, sebuah prinsip yang harus dilakukannya tiap hari. Bahkan putra ketiga dari Pak Yahya Ini juga tengah merintis untuk menjajaki negara-negara lainnya. Kita tunggu saja perjalanan berikutnya…..  Bye..

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *